Panduan bagi orangtua tentang jenis-jenis dan manfaat imunisasi untuk anak agar dapat melindungi pertumbuhannya sejak dini.
Trend Lifestyle - Imunisasi adalah tindakan untuk memberikan perlindungan atau kekebalan terhadap penyakit-penyakit infeksi yang sangat berbahaya ke dalam tubuh bayi dan anak. Dari segi kesehatan, mencegah itu lebih baik daripada mengobati.
Untuk itu diperlukan pengertian yang lebih mendalam mengenai masalah imunisasi. Bisa saja anak yang tidak pernah diimunisasi akan mengalami sakit yang parah. Imunisasi sangat vital dan merupakan cara yang paling aman untuk melindungi anak-anak dari penyakit infeksi.
Imunisasi merupakan tindakan kesehatan sebagai pencegahan tingkat pertama yang menjamin agar mereka memiliki masa kanak-kanak yang bahagia dan sehat. Karenanya, imunisasi bukanlah suatu hal yang harus ditakuti.
"Ada dua program imunisasi berdasarkan PP IDAI. Program Pengembangan Imunisai (PPI) yang diwajibkan dan Program Imunisasi Non PPI yang dianjurkan.
Wajib jika kejadian penyakitnya cukup tinggi dan menimbulkan cacat atau kematian. Sedangkan imunisasi yang dianjurkan untuk penyakit-penyakit khusus yang biasanya tidak seberat kelompok pertama," ujar spesialis anak, Prof. Dr. Sri Rezeki H. Hadinegoro, Dr., Sp.A(K).
Imunisasi wajib meliputi BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, dan Campak. Sementara yang dianjurkan seperti MMR, Hib, Demam Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela. Imunisasi yang diwajibkan pemerintah memang harganya terjangkau dibanding dengan imunisasi yang dianjurkan yang harganya lebih mahal.
"Tapi perlu diingat, semua penyakit itu bisa mematikan! Karena itu sebaiknya semua orang tua memberi imunisasi pada anaknya sesuai aturan," anjur Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta ini.
Selain menimbulkan demam pada anak, penyebab lain keengganan para ibu memberikan imunisasi pada anaknya mungkin karena enggan bolak-balik ke dokter.
"Memang ada juga imunisasi tertentu yang pengaruhnya lama, bisa sampai sekian tahun bahkan seumur hidup. Tapi banyak juga imunisasi yang perlu diulang karena pengaruhnya pada kekebalan hanya sementara. Begitu kekebalan itu menurun, ia harus diimunisasi lagi"
Semua itu bukan disebabkan keinginan dokter. "Namun berdasarkan penelitian ilmiah yang sudah dilakukan berulang kali. Tiap penyakit memang lain-lain ketahanannya. Jika sang anak terlambat diimunisasi, bayi akan tetap kebal. Hanya saja waktunya yang akan lebih cepat," jelas Sri.
Viral: Mengenal Penyakit Gangguan Mental Skizofrenia
Jenis-Jenis Imunisasi Wajib
![]() |
Ilustrasi imunisasi - Ist. |
BCG (Bacille Calmette Guerin)
Berguna untuk mencegah penyakit tuberkulosis berat. Misalnya TB paru berat. Imunisasi ini sebaiknya diberikan sebelum bayi berusia 2 - 3 bulan.Dosis untuk bayi kurang setahun adalah 0,05 ml dan anak 0,10 ml. Disuntikkan di bawah lengan kanan atas. BCG tidak menyebabkan demam. Tidak dianjurkan BCG ulangan. Suntikan BCG akan meninggalkan jaringan parut pada bekas suntikan.
BCG tidak dapat diberikan pada pasien pengidap leukemia, dalam pengobatan steroid jangka panjang, atau pengidap HIV. Apabila BCG diberikan pada usia lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.
Hepatitis B
Penyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia yang disebabkan virus hepatitis B. Penyakit ini sangat menular dan disebabkan virus yang menimbulkan peradangan pada hati. Pada bayi respon imun alami tidak dapat membersihkan virus dari dalam tubuh.Kurang lebih 90 persen bayi dan 5 persen orang dewasa akan terus membawa virus ini dalam tubuhnya setelah masa akut penyakit ini berakhir.
Seorang wanita hamil pembawa virus Hepatitis B atau menderita penyakit itu selama kehamilannya, maka dia dapat menularkan penyakit itu pada anaknya. Paling tidak 3,9 persen ibu hamil merupakan pengidap hepatitis dengan resiko transmisi maternal kurang lebih sebesar 45 persen.
Karena itu, vaksinasi hepatitis B merupakan cara terbaik untuk memastikan bayi Anda terlindungi dari Hepatitis B. Jika tidak dilakukan, hati akan mengeras dan menimbulkan kanker hati di kemudian hari.
Imunisasi Hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir. Pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi baru lahir harus berdasarkan apakah ibu mengandung virus Hepatitis B aktif atau tidak pada saat melahirkan.
Ulangan imunisasi Hepatitis B dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun. Apabila sampai usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh imunisasi hepatitis B maka diberikan secepatnya.
DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)
Imunisasi untuk mencegah bayi dari tiga penyakit, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri disebabkan bakteri Corynebacteriumdiphtheriae yang sangat menular.Dimulai dengan gangguan tenggorokan dan dengan cepat menimbulkan gangguan pernapasan dengan terhambatnya saluran pernapasan oleh karena terjadi selaput di tenggorokan dan menyumbat jalan napas, sehingga dapat menyebabkan kematian. Selain itu juga menimbulkan toksin atau racun yang berbahaya untuk jantung.
Pertusis, yang juga dikenal batuk rejan atau batuk 100 hari, disebabkan bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini membuat penderita mengalami batuk keras secara terus menerus dan bisa berakibat gangguan pernapasan dan saraf.
"Bila dibiarkan berlarut-larut, pertusis bisa menyebabkan infeksi di paru-paru." Selain itu, karena si penderita mengalami batuk keras yang terus menerus, membuat ada tekanan pada pembuluh darah hingga bisa mengakibatkan kerusakan otak.
Tetanus merupakan penyakit infeksi mendadak yang disebabkan toksin dari clostridium tetani, bakteri yang terdapat di tanah atau kotoran binatang dan manusia. Kuman-kuman itu masuk ke dalam tubuh melalui luka goresan atau luka bakar yang telah terkontaminasi oleh tanah, atau dari gigi yang telah busuk atau dari cairan congek.
Luka kecil yang terjadi pada anak-anak pada saat bermain dapat terinfeksi kuman ini. Apabila tidak dirawat penyakit ini dapat mengakibatkan kejang dan kematian. Manusia tidak mempunyai kekebalan alami terhadap tetanus sehingga perlindungannya harus diperoleh lewat imunisasi.
Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak anak umur dua bulan dengan interval 4 - 6 minggu. DPT 1 diberikan umur 2 - 4 bulan, DPT 2 umur 3 - 5 bulan, dan DPT 3 umur 4 - 6 bulan. Ulangan selanjutnya, yaitu DPT 4 diberikan satu tahun setelah DPT 3 pada usia 18 - 24 bulan, dan DPT 5 pada usia 5 - 7 tahun.
Sejak tahun 1998, DPT 5 dapat diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah dasar. Ulangan DPT 6 diberikan usia 12 tahun mengingat masih dijumpai kasus difteri pada umur lebih besar dari 10 tahun. Dosis DPT/DT adalah 0,5 ml.
Imunisasi DPT pada bayi tiga kali (3 dosis) akan memberikan imunitas satu sampai 3 tahun. Ulangan DPT umur 18 - 24 bulan (DPT 4) akan memperpanjang imunitas 5 tahun sampai umur 6-7 tahun. Dosis toksoid tetanus kelima (DPT/DT 5) bila diberikan pada usia masuk sekolah akan memperpanjang imunitas 10 tahun lagi, yaitu sampai umur 17-18 tahun.
Imunisasi ini akan melindungi bayi dari tetanus apabila anak-anak tersebut sudah menjadi ibu kelak. Dosis toksoid tetanus tambahan yang diberikan tahun berikutnya akan memperpanjang imunitas 20 tahun lagi. Dosisnya 0,5 ml.
Polio
Untuk imunisasi dasar (3 kali pemberian) vaksin diberikan 2 tetes per oral dengan interval tidak kurang dari dua minggu.Mengingat Indonesia merupakan daerah endemik polio, sesuai pedoman PPI imunisasi polio diberikan segera setelah lahir pada kunjungan pertama. Dengan demikian diperoleh daerah cakupan yang luas.
Pemberian polio 1 saat bayi masih berada di rumah sakit atau rumah bersalin dianjurkan saat bayi akan dipulangkan.
Maksudnya tak lain agar tidak mencemari bayi lain oleh karena virus polio hidup dapat dikeluarkan melalui tinja. Imunisasi polio ulangan diberikan satu tahun sejak imunisai polio 4. Selanjutnya saat masuk sekolah usia 5-6 tahun.
Campak
Vaksin campak diberikan dalam satu dosis 0,5 ml pada usia 9 bulan. Hanya saja, mengingat kadar antibodi campak pada anak sekolah mulai berkurang, dianjurkan pemberian vaksin campak ulangan pada saat masuk sekolah dasar pada usia 5-6 tahun.Viral: Panduan Puasa Bagi Penderita Diabetes Mellitus
Imunisasi Lain yang Dianjurkan
![]() |
Ilustrasi imunisasi - Ist. |
MMR
MMR (Measles/campak, Mumps/gondongan, Rubella/campak Jerman), diberikan pada usia 15 - 18 bulan dengan dosis satu kali 0,5 ml. Diberikan minimal 1 bulan sebelum atau setelah penyuntikan imunisasi lain.Apabila seorang anak telah mendapat imunisasi MMR pada usia 12-18 bulan maka imunisasi campak 2 pada umur 5 - 6 tahun tidak perlu diberikan. Untuk ulangannya diberikan pada usia 10 - 12 tahun atau 12 - 18 tahun.
Hib (Hemophilus Influenzae type B)
Diberikan pada umur 2, 4, dan 6 bulan. Ulangan vaksin Hib diberikan pada usia 18 bulan. Apabila anak datang pada usia 1 - 5 tahun, Hib hanya diberikan satu kali. Satu dosis vaksin Hib berisi 0,5 ml.Demam Tifoid
Tersedia 2 jenis vaksin yaitu vaksin suntikan dan diminum (bentuk kapsul). Suntikan diberikan umur lebih 2 tahun dan ulangannya dilakukan setiap 3 tahun.Sedangkan oral diberikan usia lebih dari 6 tahun. Dikemas dalam 3 dosis dengan interval selang sehari (hari 1,3,5). Sementara imunisasi ulangan dilakukan setiap 3-5 tahun.
Hepatitis A
Vaksin ini diberikan pada daerah yang kurang terpajan (under exposure) pada anak usia lebih 2 tahun. Dosis 360U diberikan tiga kali dengan interval 4 minggu antara suntikan I dan II.Untuk mendapatkan perlindungan jangka panjang (10 tahun) dengan nilai ambang pencegahan lebih 20mlU/ml, dosis ketiga diberikan 6 bulan setelah suntikan pertama. Apabila diberikan dosis 720 I, imunisasi cukup diberikan dua kali dengan interval 6 bulan.
Varisela (Cacar Air)
Efektivitas vaksin varisela tidak diragukan lagi. Tapi karena cakupan imunisasi belum tinggi yang disebabkan harga yang belum terjangkau, maka imunisasi rutin belum dapat terlaksana.Mengingat cacar air pada anak biasanya ringan, sedangkan dampak penyakit pada orang dewasa lebih berat, apalagi bila terjadi pada masa kehamilan.
Karena dapat mengakibatkan bayi/janin menderita cacar air waktu masih di dalam kandungan (sindrom varisela kongenital) dengan angka kematian yang tinggi. Untuk menghindarkan perubahan epidemiologi tersebut imunisasi ini direkomendasikan pada usia 10-12 tahun dengan dosis 0,5 ml satu kali.
Apabila diberikan lebih dari 13 tahun maka imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu. Atas permintaan orang tua, imunisasi ini dapat diberikan kapan saja setelah anak berusia 1 tahun. Untuk imunisasi ulangan sampai saat ini belum dianjurkan.
Viral: 6 Cara Ampuh Agar Tidak Lari dari Masalah
Keuntungan Vaksin Kombinasi
![]() |
Ilustrasi imunisasi - Ist. |
Pada saat ini ditemukan vaksin-vaksin kombinasi yang merupakan solusi untuk mendorong para ibu memberi imunisasi pada bayi atau anaknya secara tepat waktu. Dengan demikian, orang tua dapat mempersingkat jadwal imunisasi anak.
Salah satunya adalah vaksin kombinasi DPT-HB (Difteri, Pertusis, Tetanus, dan Hepatitis B). Biasanya bayi harus diimunisasi tiga kali DPT dan tiga kali Hepatitis B secara terpisah. Tapi kini dengan vaksin gabungan, kunjungan ke dokter bisa dipersingkat menjadi hanya tiga kali.
"Vaksin gabungan bisa memberikan kekebalan pada penyakit sekaligus mengurangi rasa tidak enak badan akibat imunisasi pada bayi. Selain itu juga mencegah imunisasi tidak lengkap," ujar Dr. Hari Martono Sp.A.
Vaksin kombinasi DPT-HBV lebih meningkatkan cakupan vaksinasi dibandingkan dengan pemberian vaksinasi DPT-HBV yang terpisah. Beberapa keuntungan lainnya,
"Jumlah jarum dan suntikan berkurang. Ini mengurangi stres dan rasa nyeri, selain juga mengurangi risiko penularan hepatitis dan AIDS. Bagi orang tua, juga mempermudah mengingat jadwal kapan harus imunisasi. Sedangkan bagi dokter dan rumah sakit, jelas lebih efisien dan mengurangi biaya penyimpanan," papar Hari.* (Nova)
KOMENTAR